Sedari tadi Kapten Bhirawa hanya duduk terpasung. Selepas pertemuannya dengan anak komandan, hatinya tak begitu dalam menanggapi  seratus persen atas pinangan yang tidak bertepuk sebelah tangan itu. Justru kegamangan yang ia hadapi saat ini.

Dengan mendapatkan putri dari seorang anak TNI, berarti ia mengamini harapan orang tuanya. Di sisi lain ada mutira kasih dari perempuan berkerudung yang kini mengajar di SD Darul Ilmi Surabaya. Pikirnya, pantaslah kiranya kalau ia yang berwatak keras bisa bersanding dengan perempuan lembut seperti Halimah.

Ia pegang dua surat cinta dari orang yang berbeda. Menyanggupi isi amplop berwarna biru muda, berarti sebentar lagi statusnya menjadi menantu komandan. Lalu, ia membuka kembali surat beramplop merah marun. Bhirawa langsung membaca paragraf terakhir sebelum salam.
“Semua kembali kepadamu, Kapten. Istikharahlah!”
Teriring salam,
yang menunggu kepastianmu

============================================================
 Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest:Senandung Cinta